BAB I
SIFAT-SIFAT BAHAN
1.1 Asam
Sitrat
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan
pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan
bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa
masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal
sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam
mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat
digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan
(Anonim, 2012).
Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan
sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot
kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut). Rumus
kimia asam sitrat adalah C6H8O7. Struktur asam
ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat.
Sifat-sifat fisis asam sitrat dirangkum pada tabel di sebelah kanan. Keasaman
asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton
dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat.
Sitrat sangat baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan.
Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat.
Selain itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga
digunakan sebagai pengawet dan penghilang kesadahan air (Anonim, 2012).
Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk
kristal berwarna putih. Serbuk kristal tersebut dapat berupa bentuk anhydrous
(bebas air), atau bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk
setiap molekul asam sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air
panas, sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat
dalam air dingin. Bentuk monohidrat tersebut dapat diubah menjadi bentuk
anhydrous dengan pemanasan di atas 74 °C (Anonim, 2012)
Secara kimia, asam sitrat bersifat seperti asam
karboksilat lainnya. Jika dipanaskan di atas 175 °C, asam sitrat terurai dengan
melepaskan karbon dioksida dan air (Anonim, 2012)
1.2 Natrium
Hidrogen Fosfat (Na2HPO4. 2H2O)
Natrium hidrogen fosfat adalah garam natrium dari asam
fosfat. Ini adalah bubuk putih yang larut sangat higroskopis dan air . Oleh
karena itu digunakan secara komersial sebagai aditif anti-caking dalam produk
bubuk. Natrium hdrogen fosfat juga dikenal sebagai ortofosfat hidrogen
dinatrium, natrium fosfat hidrogen atau natrium fosfat dibasic. Hal ini secara
komersial tersedia dalam bentuk terhidrasi dan anhidrat. Larutan fosfat hidrogen dinatrium air mempunyai pH
berkisar antara 8,0 dan 11,0 (Anonim, 2012)
1.3 Natrium
Karbonat (Na2CO3)
Natrium karbonat (Na2CO3) adalah natrium garam dalam asam karbonat. Paling sering terjadi sebagai kristal heptahidrat, dapat membentuk
serbuk putih. Natrium karbonat digunakan
sehari-hari sebagai pelunak air. Memiliki pendingin alkali rasa, dan dapat diperoleh dari abu serta dari banyak tanaman. Natrium karbonat diproduksi dalam jumlah
besar dalam proses yang dikenal sebagai proses Solvay (Anonim, 2011).
Sebagai
bahan pembuat kaca adalah kegunaan dari natrium karbonat yang paling penting.
Ketika dikombinasikan dengan pasir (SiO2) dan kalsium karbonat (CaCO3)
dan dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi, kemudian didinginkan dengan
sangat cepat, sehingga menghasilkan kaca. Jenis kaca ini dikenal sebagai kaca
kapur soda (Keenan, dkk., 1989).
1.4 Natrium
Hidroksida
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda
kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida
terbentuk dari oksida basa natrium oksida dilarutkan dalam air. Natrium
hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air.
Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai
basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan
deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam
laboratorium kimia .Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia
dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat
lembap cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia
sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga
larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini
lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan
pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda
kuning pada kain dan kertas (Anonim, 2012).
NaOH (natrium hidroksida)
berwarna putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, serpihan
atau batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan
hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab.
Kelarutan mudah larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter.
Titik leleh 318 °C
serta titik didih 1390 °C.
Hidratnya mengandung 7; 5; 3,5; 3; 2 dan 1 molekul air (Daintith, 2005).
NaOH
membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan
berwarna putih, densitas NaOH adalah 2,1 . Senyawa ini sangat mudah terionisasi
membentuk ion natrium dan hidroksida (Keenan, dkk., 1989).
1.5
Albumin
Albumin merupakan protein
utama dalam plasma manusia (kurang lebih 4,5 g/dl), berbentuk elips dengan
panjang 150 A, mempunyai berat molekul yang bervariasi bergantung jenis
spesies. Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000 dan
didalam daging mamalia 63.000 (Montgomert, 1983).
Albumin mencakup semua
protein yang larut dalam air bebas dan amonium sulfat 2,03 mol/L. Albumin
merupakan protein sederhana. Struktur globular yang tersusun dari ikatan
polipeptida tunggal dengan susunan asam amino. Berdasarkan klasifikasi protein
menurut komposisinya di dalam albumin tidak bergantung komponen bukan protein(
Kusnawijaya, 1981).
Kandungan albumin antara
suatu spesies dengan spesies lainnya berbeda. Salah satu faktor yang menentukan
kadar albumin dalam jaringan adalah nutrisi penjelasan bahwa faktor utama
sintesa albumin adalah nutrisi, lingkungan, hormon, dan ada tidaknya suatu
penyakit. Kira-kira ada 12 g albumin disintesa oleh hati setiap hari pada
penderita sironis hepatitislanjut fungsi sintesis albumin menurun. Asam amino
mempunyai peranan sangat penting bagi sintesa albumin dalam jaringan (Tandra
dkk, 1988).
1.6 Natrium
Nitroprusida
Natrium nitroprusida merupakan senyawa anorganik dengan
rumus Na2[Fe(CN)5NO]·2H2O. Garam ini berwarna
merah, yang sering disingkat SNP, merupakan vasodilator kuat. Garam natrium
larut dalam air dan pada tingkat lebih rendah dalam etanol untuk memberikan
solusi yang berisi dianion [Fe(CN)5NO]2 -Nitroprusside
adalah suatu anion kompleks yang dilengkapi dengan pusat besi oktahedral
dikelilingi oleh lima ligan sianida terikat erat dan salah satu ligan nitrat oksida
linier. Ligan nitat oksida linear bermuatan positif tunggal. Dengan demikian
natrium nitroprusida memiliki rendah-spin D6 konfigurasi elektron dan
diamagnetik. Reaksi kimia terutama terkait dengan ligan NO (Anonim, 2012).
1.7 Amilum
Amilum atau pati adalah adalah karbohidrat kompleks yang
tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati
merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan
glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia
juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting (Anonim, 2012).
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan
amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras
(pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan
warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi.
Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan (Anonim, 2012).
1.8 Akuades
Akuades
(H2O) termasuk pelarut yang paling sering dijumpai . Air berbentuk
cair pada suhu kamar yang seharusnya berbentuk gas secara karena memiliki massa
molekul yang rendah (Mr = 18 gram/mol). Namun, karena adanya ikatan hidrogen,
maka hal ini membuat air memiliki titik didih yang tinggi (Anonim, 2011).
DAFTAR
PUSTAKA
Daintith, J., 2005, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta.
Keenan, C. W., Kleinfelter, D. C., dan Wood, J. H.,
1989, Ilmu Kimia untuk Universitas:
Edisi Keenam, Erlangga, Jakarta.
Anonim, 2012a, Air, (http://id.wikipedia.org/air/), diakses pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 21.55 WITA.
Anonim, 2012b,
Natrium
Karbonat,
(http://id.wikipedia.org/wiki/natrium-karbonat), diakses pada 28 Februari 2012 pukul 21.07
WITA.
Anonim, 2012c, Natrium
Hidroksida, (http://www.wikipedia.org/wiki/natrium-hidroksida),
diakses pada
tanggal 28 Februari 2012 pada pukul
21.27 WITA.
Anonim, 2012d,
Albumin, (http://www.wikipedia.org/wiki/albumin), diakses pada
tanggal 28 Februari 2012 pukul 21.34 WITA.
BAB II
PROSEDUR DAN PERHITUNGAN
2.1 Pembuatan Buffer
Pada percobaan ini dibuat buffer natrium hidrogen fosfat
(Na2HPO4. 2H2O) ditimbang dalam
volume 500 ml= 0,5 L, 0,2 M dan massa jenisnya 177,99 gr/ml
Massa = M x
Mr xV
= 0,2
mol/L x 177,99 gr/mol x 0,5 L
= 17,799
gr
Pembuatan
buffer untuk asam sitrat
dengan
massa relative asam sitrat 210,14 gr/mol, Konsentrasi
(M) 0.1 M, Volume=
500 ml (0,5 L) ditimbang
Massa = M x Mr xV
= 0,1
M x 210,14 gr/mol x 0.5 L
= 10.507
gram
2.1.1
Buffer pH 5,4
Untuk buffer dengan pH 5,4 dan
volume 100
ml dibutuhkan 57,5
ml natrium fosfat dengan cara mengambil
gelas kimia untuk memindahkan 10 mL dan 1.15 mL larutan dengan menngunakan
pipet skala dan ditambahkan 8,85 ml asam
sitrat dengan cara mengambil gelas kimia
5 mL dan 3,85 mL larutan dengan menggunakan pipet skala .
2.1.2
Buffer dengan pH 6,2
Untuk Buffer dengan pH 6,2 natrium Hidrogen fosfat dua
hidrat akan digunakan 66.1 ml dengan cara mengambil gelas ukur untuk
memindahkan 60 mL dan 6,1 mL larutan dengan menggunakan pipet skala. Kemudian
ditambahkan asam sitrat sebanyak 33,9 mL dengan cara mengambil gelas ukur untuk
memindahkan 30 mL dan 3,9 mL larutan dengan menggunakan pipet skala.
2.1.3
Buffer dengan pH 6,8
Untuk buffer dengan pH 6,8 natrium Hidrogen fosfat dua hidrat akan
digunakan 77,25 ml dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 70 mL dan
7,25 mL larutan dengan menggunakan pipet skala. Kemudian ditambahkan asam
sitrat sebanyak 22,75 mL dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 20
mL dan 2,75 mL larutan dengan menggunakan pipet skala.
2.1.4
Buffer dengan pH 7,4
Untuk buffer dengan pH 7,4 dengan volume 100 mL dibutuhkan 55,75 natrium hidrogen fosfat dengan cara mengambil
gelas ukur untuk memindahkan 50 mL dan 5,75 mL larutan dengan menggunakan pipet
skala. Kemudian ditambahkan asam sitrat sebanyak 44,25 mL dengan cara mengambil
gelas ukur untuk memindahkan 40 mL dan 4,25 mL larutan dengan menggunakan pipet
skala.
2.2
Pembuatan Larutan Natrium
Nitroprusida 1 %, 100 ml
Natrium nitroprusida ditimbang dengan 1 % dan volume 100 ml, dengan
perhitungan sebagai berikut:
% = m zat terlarut volume
x
100
100=100 gram à sehingga gram = 1
Natrium Nitroprusida ditimbang sebanyak 1
gram, kemudian dilarutkan dengan aquades 100 mL, setelah itu diencerkan
kemudian diaduk sampai berwarna merah kecoklatan.
2.3 Pembuatan Larutan Amilum 1%, 500 mL
Amilum yang
ditimbang dengan presentasinya 1 % dan volume 500 ml, dengan perhitungan
sebagai berikut :
% = massa zat terlarut volume
x
100
100 gram = 500
Gram = 5
Amilum yang ditimbang itu sebanyak 5 gram,
kemudian dilarutkan dan diencerkan sampai 500 mL, setelah itu diaduk dan dipanaskan
sampai berbentuk gel.
2.4
Pembuatan NaOH 0,1 M
Larutan NaOH yang tersedia di laboratorium dengan
konsentrasi 6 M akan
diencerkan menjadi 0,1 M dengan volume 200 mL.
M1 x V1
= M2 x V2
6 M x V1= 0.1 M x 200 mL
6 M x V1= 20 M mL
V1 = 20 M mL/ 6 M
V1 = 3,33
mL
Berdasarkan perhitungan diatas maka untuk
mengencerkan larutan NaOH 6 M menjadi
0,1 M dibutuhkan penambahan volume sebanyak 3,33 mL.
2.5
Pembuatan Na2CO3
6M
NaOH
diencerkan
hingga mencapai 0.1 M dalam 200 ml=02 L aquades, dengan
perhitungan sebagai berikut
Rumus pengenceran M1 x V1
= M2 x V2
6 M x V1 = 0.1 M x 0,2 L
6 M x V1 = 0,02
M L
V1
= 0,02 M L / 6 M
V1 = 0,0033 L = 3 ml
Massa Na2CO3 yang harus ditimbang
% = massa volume
x
100
Gram = mL % Na 2 CO 3 100%
Gram = 200% 100%
Gram = 4
Na2CO3 yang
ditimbang sebanyak 4 gram. Kemudian dilarutkan dalam NAOH, setelah itu diaduk
dan dimasukkan kedalam botol yang telah diisikan.
2.5
Albumin
Albumin tidak dapat dihitung karena
konsentrasi albumin tidak diketahui. Adapun prosedur kerjanya yaitu diambil
putih telur sebanyak 35 mL kemudian diencerkan dengan penambahan H20 sampai
volumenya 500 mL.
LEMBAR PENGESAHAN
Makassar,
16 Maret 2012
Asisten
Praktikan
ARKIEMAH HAMDA MUH. ADE ARTASASTA
LAPORAN
PRAKTIKUM
PEMBUATAN REAGEN
NAMA : MUH.
ADE ARTASASTA
NIM : H311 10 269
KELOMPOK : III (TIGA)
HARI/TGL
PERCOBAAN : KAMIS/ 23 FEBRUARI 2012
ASISTEN : ARKIEMAH HAMDA
LABORATORIUM
BIOKIMIA
JURUSAN
KIMIA
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
HASANUDDIN
MAKASSAR
2012