Kamis, 22 Maret 2012

pembuatan reagen


BAB I
SIFAT-SIFAT BAHAN
                                                               
1.1  Asam Sitrat
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan buah tumbuhan genus Citrus (jeruk-jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara dalam siklus asam sitrat yang terjadi di dalam mitokondria, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat pembersih yang ramah lingkungan dan sebagai antioksidan (Anonim, 2012).
Asam sitrat terdapat pada berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk purut). Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7. Struktur asam ini tercermin pada nama IUPAC-nya, asam 2-hidroksi-1,2,3-propanatrikarboksilat. Sifat-sifat fisis asam sitrat dirangkum pada tabel di sebelah kanan. Keasaman asam sitrat didapatkan dari tiga gugus karboksil COOH yang dapat melepas proton dalam larutan. Jika hal ini terjadi, ion yang dihasilkan adalah ion sitrat. Sitrat sangat baik digunakan dalam larutan penyangga untuk mengendalikan pH larutan. Ion sitrat dapat bereaksi dengan banyak ion logam membentuk garam sitrat. Selain itu, sitrat dapat mengikat ion-ion logam dengan pengkelatan, sehingga digunakan sebagai pengawet dan penghilang kesadahan air (Anonim, 2012).
Pada temperatur kamar, asam sitrat berbentuk serbuk kristal berwarna putih. Serbuk kristal tersebut dapat berupa bentuk anhydrous (bebas air), atau bentuk monohidrat yang mengandung satu molekul air untuk setiap molekul asam sitrat. Bentuk anhydrous asam sitrat mengkristal dalam air panas, sedangkan bentuk monohidrat didapatkan dari kristalisasi asam sitrat dalam air dingin. Bentuk monohidrat tersebut dapat diubah menjadi bentuk anhydrous dengan pemanasan di atas 74 °C (Anonim, 2012)
Secara kimia, asam sitrat bersifat seperti asam karboksilat lainnya. Jika dipanaskan di atas 175 °C, asam sitrat terurai dengan melepaskan karbon dioksida dan air (Anonim, 2012)

1.2  Natrium Hidrogen Fosfat (Na2HPO4. 2H2O)
 







Natrium hidrogen fosfat adalah garam natrium dari asam fosfat. Ini adalah bubuk putih yang larut sangat higroskopis dan air . Oleh karena itu digunakan secara komersial sebagai aditif anti-caking dalam produk bubuk. Natrium hdrogen fosfat juga dikenal sebagai ortofosfat hidrogen dinatrium, natrium fosfat hidrogen atau natrium fosfat dibasic. Hal ini secara komersial tersedia dalam bentuk terhidrasi dan anhidrat. Larutan  fosfat hidrogen dinatrium air mempunyai pH berkisar antara 8,0 dan 11,0 (Anonim, 2012)

1.3  Natrium Karbonat (Na2CO3)
            Natrium karbonat (Na2CO3) adalah natrium garam dalam asam karbonat. Paling sering terjadi sebagai kristal heptahidrat, dapat membentuk serbuk putih. Natrium karbonat digunakan sehari-hari sebagai pelunak air. Memiliki pendingin alkali rasa, dan dapat diperoleh dari abu serta dari banyak tanaman. Natrium karbonat diproduksi dalam jumlah besar dalam proses yang dikenal sebagai proses Solvay (Anonim, 2011).
            Sebagai bahan pembuat kaca adalah kegunaan dari natrium karbonat yang paling penting. Ketika dikombinasikan dengan pasir (SiO2) dan kalsium karbonat (CaCO3) dan dipanaskan hingga suhu yang sangat tinggi, kemudian didinginkan dengan sangat cepat, sehingga menghasilkan kaca. Jenis kaca ini dikenal sebagai kaca kapur soda (Keenan, dkk., 1989).




1.4  Natrium Hidroksida
Natrium hidroksida (NaOH), juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari oksida basa natrium oksida dilarutkan dalam air. Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke dalam air. Ia digunakan di berbagai macam bidang industri, kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas, tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang paling umum digunakan dalam laboratorium kimia .Natrium hidroksida murni berbentuk putih padat dan tersedia dalam bentuk pelet, serpihan, butiran ataupun larutan jenuh 50%. Ia bersifat lembap cair dan secara spontan menyerap karbon dioksida dari udara bebas. Ia sangat larut dalam air dan akan melepaskan panas ketika dilarutkan. Ia juga larut dalam etanol dan metanol, walaupun kelarutan NaOH dalam kedua cairan ini lebih kecil daripada kelarutan KOH. Ia tidak larut dalam dietil eter dan pelarut non-polar lainnya. Larutan natrium hidroksida akan meninggalkan noda kuning pada kain dan kertas (Anonim, 2012).
NaOH (natrium hidroksida) berwarna putih atau praktis putih, massa melebur, berbentuk pellet, serpihan atau batang atau bentuk lain. Sangat basa, keras, rapuh dan menunjukkan pecahan hablur. Bila dibiarkan di udara akan cepat menyerap karbondioksida dan lembab. Kelarutan mudah larut dalam air dan dalam etanol tetapi tidak larut dalam eter. Titik leleh 318 °C serta titik didih 1390 °C. Hidratnya mengandung 7; 5; 3,5; 3; 2 dan 1 molekul air (Daintith, 2005).
            NaOH membentuk basa kuat bila dilarutkan dalam air, NaOH murni merupakan padatan berwarna putih, densitas NaOH adalah 2,1 . Senyawa ini sangat mudah terionisasi membentuk ion natrium dan hidroksida (Keenan, dkk., 1989).

1.5  Albumin
Albumin merupakan protein utama dalam plasma manusia (kurang lebih 4,5 g/dl), berbentuk elips dengan panjang 150 A, mempunyai berat molekul yang bervariasi bergantung jenis spesies. Berat molekul albumin plasma manusia 69.000, albumin telur 44.000 dan didalam daging mamalia 63.000 (Montgomert, 1983).
Albumin mencakup semua protein yang larut dalam air bebas dan amonium sulfat 2,03 mol/L. Albumin merupakan protein sederhana. Struktur globular yang tersusun dari ikatan polipeptida tunggal dengan susunan asam amino. Berdasarkan klasifikasi protein menurut komposisinya di dalam albumin tidak bergantung komponen bukan protein( Kusnawijaya, 1981).
Kandungan albumin antara suatu spesies dengan spesies lainnya berbeda. Salah satu faktor yang menentukan kadar albumin dalam jaringan adalah nutrisi penjelasan bahwa faktor utama sintesa albumin adalah nutrisi, lingkungan, hormon, dan ada tidaknya suatu penyakit. Kira-kira ada 12 g albumin disintesa oleh hati setiap hari pada penderita sironis hepatitislanjut fungsi sintesis albumin menurun. Asam amino mempunyai peranan sangat penting bagi sintesa albumin dalam jaringan (Tandra dkk, 1988).

1.6  Natrium Nitroprusida
Natrium nitroprusida merupakan senyawa anorganik dengan rumus Na2[Fe(CN)5NO]·2H2O. Garam ini berwarna merah, yang sering disingkat SNP, merupakan vasodilator kuat. Garam natrium larut dalam air dan pada tingkat lebih rendah dalam etanol untuk memberikan solusi yang berisi dianion [Fe(CN)5NO]2 -Nitroprusside adalah suatu anion kompleks yang dilengkapi dengan pusat besi oktahedral dikelilingi oleh lima ligan sianida terikat erat dan salah satu ligan nitrat oksida linier. Ligan nitat oksida linear bermuatan positif tunggal. Dengan demikian natrium nitroprusida memiliki rendah-spin D6 konfigurasi elektron dan diamagnetik. Reaksi kimia terutama terkait dengan ligan NO (Anonim, 2012).
1.7  Amilum
Amilum atau pati adalah adalah karbohidrat kompleks yang tidak larut dalam air, berwujud bubuk putih, tawar dan tidak berbau. Pati merupakan bahan utama yang dihasilkan oleh tumbuhan untuk menyimpan kelebihan glukosa (sebagai produk fotosintesis) dalam jangka panjang. Hewan dan manusia juga menjadikan pati sebagai sumber energi yang penting (Anonim, 2012).
Pati tersusun dari dua macam karbohidrat, amilosa dan amilopektin, dalam komposisi yang berbeda-beda. Amilosa memberikan sifat keras (pera) sedangkan amilopektin menyebabkan sifat lengket. Amilosa memberikan warna ungu pekat pada tes iodin sedangkan amilopektin tidak bereaksi. Penjelasan untuk gejala ini belum pernah bisa tuntas dijelaskan (Anonim, 2012).

1.8  Akuades
Akuades (H2O) termasuk pelarut yang paling sering dijumpai . Air berbentuk cair pada suhu kamar yang seharusnya berbentuk gas secara karena memiliki massa molekul yang rendah (Mr = 18 gram/mol). Namun, karena adanya ikatan hidrogen, maka hal ini membuat air memiliki titik didih yang tinggi (Anonim, 2011).








DAFTAR PUSTAKA

Daintith, J., 2005, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta.
Keenan, C. W., Kleinfelter, D. C., dan Wood, J. H., 1989, Ilmu Kimia untuk Universitas: Edisi Keenam, Erlangga, Jakarta.

Anonim, 2012a, Air, (http://id.wikipedia.org/air/), diakses pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 21.55 WITA.

Anonim, 2012b, Natrium Karbonat, (http://id.wikipedia.org/wiki/natrium-karbonat), diakses pada 28 Februari 2012 pukul 21.07 WITA.

Anonim, 2012c, Natrium Hidroksida, (http://www.wikipedia.org/wiki/natrium-hidroksida), diakses pada tanggal 28 Februari 2012 pada pukul 21.27 WITA.

Anonim, 2012d, Albumin, (http://www.wikipedia.org/wiki/albumin), diakses pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 21.34 WITA.















BAB II
PROSEDUR DAN PERHITUNGAN

2.1 Pembuatan Buffer
Pada percobaan ini dibuat buffer natrium hidrogen fosfat (Na2HPO4. 2H2O) ditimbang dalam volume 500 ml= 0,5 L, 0,2 M dan massa jenisnya 177,99 gr/ml
Massa  =          M x Mr xV
            =          0,2 mol/L x 177,99 gr/mol x 0,5 L
                        =          17,799 gr        
Pembuatan buffer untuk asam sitrat dengan massa relative asam sitrat 210,14 gr/mol, Konsentrasi (M) 0.1 M, Volume= 500 ml (0,5 L) ditimbang
Massa  =    M x Mr xV
            =    0,1 M x 210,14 gr/mol x 0.5 L
            =    10.507 gram

2.1.1 Buffer pH  5,4
      Untuk buffer  dengan pH 5,4   dan volume 100 ml dibutuhkan 57,5 ml natrium fosfat  dengan cara mengambil gelas kimia untuk memindahkan 10 mL dan 1.15 mL larutan dengan menngunakan pipet skala dan ditambahkan  8,85 ml asam sitrat dengan cara mengambil  gelas kimia 5 mL dan 3,85 mL larutan dengan menggunakan pipet skala .

2.1.2 Buffer dengan pH 6,2
      Untuk Buffer  dengan pH 6,2 natrium Hidrogen fosfat dua hidrat akan digunakan 66.1 ml dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 60 mL dan 6,1 mL larutan dengan menggunakan pipet skala. Kemudian ditambahkan asam sitrat sebanyak 33,9 mL dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 30 mL dan 3,9 mL larutan dengan menggunakan pipet skala.

2.1.3 Buffer dengan pH 6,8
      Untuk buffer dengan pH 6,8   natrium Hidrogen fosfat dua hidrat akan digunakan 77,25 ml dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 70 mL dan 7,25 mL larutan dengan menggunakan pipet skala. Kemudian ditambahkan asam sitrat sebanyak 22,75 mL dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 20 mL dan 2,75 mL larutan dengan menggunakan pipet skala.

2.1.4 Buffer dengan pH 7,4
      Untuk buffer dengan pH 7,4  dengan volume 100 mL dibutuhkan 55,75 natrium hidrogen fosfat dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 50 mL dan 5,75 mL larutan dengan menggunakan pipet skala. Kemudian ditambahkan asam sitrat sebanyak 44,25 mL dengan cara mengambil gelas ukur untuk memindahkan 40 mL dan 4,25 mL larutan dengan menggunakan pipet skala.

2.2 Pembuatan Larutan Natrium Nitroprusida 1 %, 100 ml
      Natrium nitroprusida ditimbang dengan 1 % dan volume 100 ml, dengan perhitungan sebagai berikut:
%     = m zat terlarutvolume  x 100
1100= gr100  x100100
100=100 gram à sehingga gram = 1
      Natrium Nitroprusida ditimbang sebanyak 1 gram, kemudian dilarutkan dengan aquades 100 mL, setelah itu diencerkan kemudian diaduk sampai berwarna merah kecoklatan.

2.3 Pembuatan Larutan Amilum 1%, 500 mL

            Amilum yang ditimbang dengan presentasinya 1 % dan volume 500 ml, dengan perhitungan sebagai berikut :
%     = massa zat terlarutvolume  x 100
1100= gr500  x100100
100 gram = 500
Gram = 5
      Amilum yang ditimbang itu sebanyak 5 gram, kemudian dilarutkan dan diencerkan sampai 500 mL, setelah itu diaduk dan dipanaskan sampai berbentuk gel.

2.4 Pembuatan NaOH 0,1 M
            Larutan NaOH yang tersedia di laboratorium dengan konsentrasi 6 M akan
diencerkan menjadi 0,1 M dengan volume 200 mL.
M1 x V1 = M2 x V2
      6 M x V1= 0.1 M x 200 mL
            6 M x V1= 20 M mL
      V1 = 20 M mL/ 6 M
      V1 = 3,33 mL
Berdasarkan perhitungan diatas maka untuk mengencerkan  larutan NaOH 6 M menjadi 0,1 M dibutuhkan penambahan volume sebanyak 3,33 mL.
2.5 Pembuatan Na2CO3
 6M NaOH diencerkan hingga mencapai 0.1 M dalam 200 ml=02 L aquades,  dengan perhitungan sebagai berikut
Rumus pengenceran M1 x V1 = M2 x V2
                                6 M x V1 = 0.1 M x 0,2 L
                                6 M x V1 = 0,02 M L
                                          V1 = 0,02 M L / 6 M
                                          V1 = 0,0033 L = 3 ml
Massa Na2CO3  yang harus ditimbang
%     = massa volume  x 100
Gram = mL % Na2CO3 100%  
Gram = 200%100%
Gram = 4
      Na2CO3 yang ditimbang sebanyak 4 gram. Kemudian dilarutkan dalam NAOH, setelah itu diaduk dan dimasukkan kedalam botol yang telah diisikan.

2.5 Albumin
      Albumin tidak dapat dihitung karena konsentrasi albumin tidak diketahui. Adapun prosedur kerjanya yaitu diambil putih telur sebanyak 35 mL kemudian diencerkan dengan penambahan H20 sampai volumenya 500 mL.
           







LEMBAR PENGESAHAN














                                                                                         Makassar, 16 Maret 2012
        Asisten                                                                             Praktikan

ARKIEMAH HAMDA                                             MUH. ADE ARTASASTA
LAPORAN PRAKTIKUM

PEMBUATAN REAGEN

                        NAMA                                   : MUH. ADE ARTASASTA
                        NIM                                        : H311 10 269
                        KELOMPOK                        : III (TIGA)
                        HARI/TGL PERCOBAAN : KAMIS/ 23 FEBRUARI 2012
                        ASISTEN                               : ARKIEMAH HAMDA



                                                                 






LABORATORIUM BIOKIMIA
JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2012