Kamis, 22 Maret 2012


BAB I

PENDAHULUAN



            Trigliserida merupakan triester dari asam lemak dan gliserol, tergolong sebagai lipid sederhana. Lipid mempunyai peranan penting bagi manusia, hewan dan tumbuhan. Lipid terdapat dalam semua bagian tubuh manusia terutama dalam otak, mempunyai peran yang sangat penting dalam proses metabolisme secara umum. Sebagian besar lipid sel jaringan terdapat sebagai komponen utama membran sel dan berperan mengatur jalannya metabolisme di dalam sel.
            Lipid (dari bahasa Yunani, lipos, lemak) merupakan penyusun tumbuhan atau hewan yang dicirikan oleh sifat kelarutannya. Lipid tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik nonpolar. Lipid dapat diekstraksi dari sel dan jaringan dengan pelarut organik. Sifat kelarutan ini membedakan lipid dengan tiga golongan utama lainnya, yaitu karbohidrat, protein dan asam nukleat yang pada umumnya tidak larut dalam pelarut organik.
            Kita akan melakukan dua tes pada percobaan ini untuk mengidentifikasi adanya kandungan gliserol yaitu tes akrolein dan tes kolorimetri. Dimana tes akrolein ditandai dengan adanya bau khas dari gliserol, sedangkan pada kalorimetri adanya gliserol ditandai dengan timbulnya warna hijau zamrud. Kedua tes ini sangat berguna bagi industri minyak yaitu untuk mengetes pemalsuan minyak.
            Melihat betapa besar manfaat zat-zat yang tergolong dalam kelompok lipid sehingga kita perlu untuk mengetahui banyak hal tentang lipid, salah satunya yaitu dengan melakukan percobaan ini.

1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1   Maksud Percobaan

Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mempelajari dan mengetahui adanya gliserol dalam senyawa lipida dengan menggunakan metode tertentu.

1.2.2        Tujuan Percobaan
            Tujuan dilakukannya percobaan ini mengetahui adanya gliserol dalam beberapa sampel dengan menggunakan tes akrolein dan mengetahui adanya gliserol dalam beberapa sampel dengan menggunakan tes kalorimetri.

1.3 Prinsip Percobaan
Prinsip dari percobaan ini adalah mengidentifikasi keberadaan gliserol pada beberapa sampel melalui penambahan KHSO4 dan pemanasan sehingga timbul bau karakteristik (tengik) dan engidentifikasi keberadaan gliserol dalam beberapa sampel melalui penambahan pereaksi seperti H2SO4, HCl, NaOCl dan α-naftol hingga terbentuk warna hijau zamrud.


1.       
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



Senyawa-senyawa yang termasuk lipid dapat dibagi dalam beberapa golongan. Ada beberapa cara penggolongan yang dikenal. Bloor membagi lipid dalam tiga golongan besar yakni: (1) lipid sederhana, yaitu ester asam lemak dengan berbagai alkohol, contohnya lemak atau gliserida dan lilin (waxes); (2) lipid gabungan yaitu ester asam lemak yang mempunyai gugus tambahan, contohnya fosfolipid, serebrosida; (3) derivat lipid, yaitu senyawa yang dihasilkan oleh hasil hidrolisis lipid, contohnya asam lemak, gliserol dan sterol. Di samping itu berdasarkan sifat kimia yang penting, lipid dapat dibagi dalam dua golongan yang besar, yakni lipid yang dapat disabunkan, yakni dapat dihidrolisis dengan basa contohnya lemak, dan lipid yang tidak dapat disabunkan, contohnya steroid (Poedjiadi, 1994).
Lipid yang paling sederhana dan paling banyak mengandung asam lemak sebagai unit penyusun adalah triasilgliserol, juga seringkali dinamakan lemak, lemak netral, atau trigliserida. Trigliserida adalah ester dari alkohol gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Trigliserida adalah komponen utama dari lemak penyimpan atau depot lemak pada sel tumbuhan dan hewan (Lehninger, 1995).
Trigliserida sederhana jarang dijumpai, yang lebih lazim adalah trigliserida campuran, yakni triester dari asam lemak yang tak sejenis. Lemak hewan dan minyak nabati merupakan campuran beberapa trigliserida campuran. Trigliserida campuran dalam mentega misalnya mengandung paling sedikit 14 macam asam karboksilat (Patong, 2011).
Pada umumnya, lemak apabila dibiarkan lama di udara akan menimbulkan rasa dan bau yang tidak enak. Hal ini disebabkan oleh proses hidrolisis yang menghasilkan asam lemak bebas. Disamping itu, dapat pula terjadi proses oksidasi terhadap asam lemak tak jenuh yang hasilnya akan menambah bau dan rasa yang tidak enak. Oksidasi asam lemak tidak jenuh akan menghasilkan peroksida dan selanjutnya akan terbentuk aldehida. Inilah yang menyebabkan terjadinya bau dan rasa yang tidak enak atau tengik. Kelembapan udara, cahaya, suhu tinggi, dan adanya bakteri perusak adalah faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya ketengikan lemak (Poedjiadi, 1994).
Gliserol (gliserin; propana-1,2,3-triol) merupakan alkohol trihidrat, dengan formula HOCH2CH(OH)CH2OH. Gliserol ialah cairan kental tak berwarna dan berasa manis, larut air tetapi tidak larut eter. Gliserol banyak dijumpai di alam sebagai penyusun gliserida, yang menghasilkan gliserol bila dihidrolisis (Daintith, 1994).
Satu molekul gliserol dapat mengikat satu, dua, atau tiga molekul asam lemak dalam bentuk ester, yang disebut monogliserida, digliserida, atau trigliserida. Pada lemak, satu molekul gliserol mengikat tiga molekul asam lemak, oleh karena itu lemak adalah (Poedjiadi, 1994) :
 




Suatu trigliserida R1 – COOH, R2 – COOH, dan R3 – COOH adalah molekul asam lemak yang terikat pada gliserol. Ketiga molekul asam lemak itu boleh sama, boleh berbeda. Asam lemak yang terdapat dalam alam adalah asam palmitat, stearat, oleat, dan linoleat.
Minyak goreng berfungsi sebagai penghantar panas, penambah rasa gurih dan penambah nilai kalori bahan pangan. Mutu minyak goreng ditentukan oleh titik asapnya, yaitu suhu pemanasan minyak sampai terbentuknya akrolein yang tidak diinginkan dan dapat menimbulkan rasa gatal pada tenggorokan. Hidrasi gliserol akan membentuk aldehida tak jenuh atau akrolein tersebut (Winarno, 2004).
Metil ester dari minyak biji palem telah dihasilkan dari transesterifikasi minyak biji palem kasar dengan metanol dan adanya katalis alkali. Hasil reaksi ini menghasilkan campuran heterogen metil ester dan fase gliserin, yang tak dapat dicampur dan telah terpisah membentuk endapan (Winarno, 2004).
Lilin tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut lemak. Oleh karena itu, lilin yang terdapat pada tumbuhan berfungsi sebagai lapisan pelindung terhadap air, misalnya yang terdapat pada daun dan buah. Demikian pula lilin memegang peranan penting sebagai penahan air pada binatang, misalnya domba, burung dan serangga. Lilin tidak mudah terhidrolisis seperti lemak dan tidak dapat diuraikan oleh enzim yang menguraikan lemak. Oleh karenanya lilin tidak berfungsi sebagai bahan makanan (Poedjiadi, 1994).
Perbedaan lemak dan minyak adalah pada sifat fisiknya. Pada temperatur kamar, lemak bersifat padat dan minyak bersifat cair. Suatu kekecualian adalah minyak nabati yaitu minyak kelapa, yang mencair pada temperatur 210C – 250C, hampir sama dengan temperatur kamar di daerah beriklim dingin dan dibawah temperatur kamar didaerah tropis. Lemak dan minyak pada umumnya merupakan trigliserida yang tidak homogen dengan beberapa pengecualian. Oleh sebab itu, kebanyakan trigliserida mengandung dua atau tiga asam lemak yang berbeda, misalnya satu asam palmitat, satu asam stearat dan satu asam oleat sebagai esternya. Golongan asam lemak yang spesifik yang ada dalam trigliserida tergantung pada jenis spesies dan kondisi lainnya, misalnya makanan yang dimakan dan temperatur yang mempengaruhi kehidupannya. Binatang berdarah panas cenderung melakukan biosintesa lemak yang berbentuk cair pada temperatur tubuhnya. Tumbuh-tumbuhan yang hidup pada temperatur yang lebih rendah, maka tanaman ini lebih banyak membentuk trigliserida yang mempunyai titik leleh lebih rendah ( Fessenden dan Fessenden, 1997).
Reaksi perengkahan katalitik minyak sawit untuk memproduksi senyawa hidrokarbon setaraf fraksi bensin dilakukan dalam suatu reaktor fixed bed dengan tekanan 1.5 atm, dan temperatur reaksi 350-500 °C serta weight hourly space velocities (WHSVs) of 1.8 h-1, laju alir nitrogen 10 ml/menit. Katalis Al2O3 dengan penambahan B2O3 5-25 % digunakan untuk mempelajari pengaruh temperatur, jenis umpan dan penambahan B2O3 terhadap yield fraksi bensin yang dihasilkan. Jenis umpan yang digunakan adalah minyak sawit, minyak sawit hasil oksidasi, Palm Oil Methyl Ester (POME) dan minyak sawit yang ditambahkan metanol. Produk cair hasil reaksi dianalisis GC-FID dan FT-IR.. Temperatur optimum dicapai pada 450 °C dengan yield 58%, menggunakan umpan POME dan katalis 10% B2O3/Al2O3. Hasil yang diperoleh menunjukkan yield fraksi bensin menurun pada penambahan B2O3 > 10%. Komposisi B2O3 optimum pada katalis adalah 10% dengan yield fraksi bensin 58% untuk umpan POME dan 21% minyak sawit yang ditambahkan methanol (Setiadi dan Arifianto, 2010).
Hidrolisis trigliserida menghasilkan asam lemak bebas dan gliserol dari minyak sawit telah dikaji untuk beberapa parameter seperti beban enzim dan minyak, suhu, pH dan kelajuan pengadukan. Penukaran maksimum hasil dalam masa 90 min pada 0.1 g/ml minyak, 7.46 kLU/ml enzim, suhu 45°C, pH 7.5 dan 200 putaran seminit. Model kinetik berdasarkan lipase dimangkirkan di dalam sistem minyak-air menggunakan persamaan Michaelis-Menten mendapati pemalar kadar untuk Vmax dan Km ialah masing-masing 370.37 mol/min mg-enzim dan 1.23 g/ml (Serri dkk, 2008).
























BAB III

METODE PERCOBAAN



1.1  Bahan Percobaan
            Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah gliserol, minyak sawit, minyak wijen, minyak kelapa, mentega, lilin ( wax ), NaOCl 2 %, H2SO4 pekat, KHSO4, HCl pekat, α-naftol 0,1 %, korek api, kertas label, sabun cair, cairan spritus, akuades, dan tissu rol.

1.2  Alat Percobaan
            Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, rak tabung, pipet tetes, sendok tanduk, lampu spiritus, sikat tabung, pinset, dan gegep.

3.3 Prosedur Percobaan
3.3.1 Tes Akrolein
            Tabung reaksi yang bersih dan kering disiapkan sebanyak 6 buah, masing-masing tabung reaksi diisi dengan 1 mL larutan contoh (lilin, mentega, minyak sawit, minyak wijen, minyak kelapa dan gliserol). KHSO4 ditambahkan secukupnya 0,5 gram ke dalam masing-masing tabung, kemudian tiap-tiap tabung reaksi tersebut dipanaskan dengan api kecil. Timbulnya bau tengik pada tabung menandakan adanya gliserol pada larutan contoh.

3.3.2 Tes Kolorimetri
            Tabung reaksi yang bersih dan kering disiapkan sebanyak 7 buah, 6 tabung reaksi masing-masing diisi dengan 1 mL larutan contoh (lilin, mentega, minyak sawit, minyak wijen, minyak kelapa dan gliserol), dan 1 tabung reaksi lainnya diisi dengan blanko (akuades). Larutan NaOCl 2% ditambahkan ke dalam tiap-tiap tabung reaksi sebanyak 1 mL, setelah 2 - 3 menit ditambahkan 3 - 4 tetes HCl pekat, kemudian dididihkan selama 1 menit untuk membuang kelebihan asam. Larutan α-naftol 0,1%  0,2 mL ditambahkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan 4 mL H2SO4 pekat, kemudian semua tabung reaksi dikocok dengan hati-hati dan diamati perubahan warnanya. Terbentuknya warna hijau zamrud menandakan adanya gliserol dalam larutan contoh.



BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Tes Akrolein
                Tes akrolein adalah metode untuk uji kualitatif lipid. Pada tes ini terjadi dehidrasi gliserol dalam bentuk bebas atau dalam lemak atau minyak menghasilkan aldehid akrilat atau akrolein. Tes akrolein digunakan untuk menguji keberadaan gliserin atau lemak. Pada metode akrolein ini, sampel ditambahkan KHSO4 kemudian dipanaskan. Penambahan KHSO4 ini berfungsi sebagai katalis dalam hidrolisis lipid menjadi asam lemak dan gliserol. Sedangkan pemanasan disini berfungsi agar terjadi proses hidrasi pada sampel sehingga H2O hilang dan akan terbentuk akrolein atau akrildehida yang memiliki bau yang khas yakni bau yang tajam seperti lemak yang terbakar (bau tengik).
Tabel 1. Hasil tes akrolein
Contoh
Dipanaskan (Bau)
Minyak kelapa kopra
++
Minyak sawit mentah
++
Minyak kemiri
++
Mentega
+++
Lilin
-
Minyak VCO
++
Minyak wijen
+
Gliserol
++++


Keterangan :    ++++      = sangat tengik
                        +++        = tengik
                        ++           = cukup tengik
                        +             = kurang tengik

4.1.2 Tes Kolorimetri
                Pada identifikasi gliserol dengan tes kolorimetri didasarkan pada warna hijau zamrud yang terbentuk pada sampel yang telah ditambahkan NaOCl 2%, HCl pekat kemudian dipanaskan dan ditambahkan α-naftol serta larutan H2SO4 pekat selagi masih panas.
            Penambahan NaOCl disini berfungsi untuk mereduksi kelebihan lemak sehingga terbentuk gliseril. Sedangkan HCl pekat ditambahkan sebagai katalis untuk mempercepat reaksi, sehingga setelah penambahan HCl larutan harus dipanaskan untuk membuang kelebihan asam akibat HCl. Sedangkan larutan α-naftol ditambahkan bersama H2SO4 agar pada larutan terbentuk warna hijau zamrud sehingga keberadaan gliserol dalam sampel dapat kita ketahui.

Tabel 2. Hasil uji kolorimetri
Contoh
Warna yang terbentuk
Keterngan
Minyak kelapa kopra
Hijau zamrud
2 fasa
Minyak Sawit mentah
Hijau zamrud
2 fasa
Minyak wijen
Hijau zamrud
2 fasa
Mentega
Hijau zamrud
2 fasa
Lilin
Putih kekuningan
2 fasa
Minyak kemiri
Hjiau zamrud
2 fasa
Minyak VCO
Hijau zamrud
2 fasa
Blanko (air)
Kuning
1 fasa
Gliserol
Bening kehijauan
1 fasa


4.2 Reaksi
4.2.1 Tes Akrolein
a. Lilin

b. Minyak

c. Gliserol
 





d. Mentega
4.2.2 Tes Kolorimetri
a. Gliserol

b. Minyak Kelapa

c. Mentega
d. Minyak Wijen
e. Lilin
 
 
4.3 Pembahasan
4.3.1 Tes Akrolein
Pada percobaan ini, sampel yang berbentuk padat dipanaskan terlebih dahulu untuk mengubahnya menjadi bentuk cair. Hal ini dilakukan agar dapat dengan mudah mereaksikannya dengan pereaksi yang digunakan. Masing-masing sampel direaksikan dengan KHSO4 yang berbentuk cair. Dengan pemanasan yang cukup, trigliserida yang terkandung dalam sampel akan terhidrolisis menjadi gliserol dan asam karboksilat yang kemudian disusul dengan oksidasi gliserol menjadi akrolein. Keberadaan akrolein ditandai dengan bau yang tengik dari larutan.
Dari percobaan yang dilakukan, diketahui urutan ketengikan dari yang paling tengik pada beberapa sampel ialah minyak sawit, minyak wijen, minyak kelapa, mentega dan lilin.
            Berdasarkan percobaan yang dilakukan diperoleh lilin dengan bau yang cukup tengik, hal ini bertolak belakang dengan teori yang ada. Kemungkinan hal ini terjadi karena penggunaan alat yang tidak bersih, yang mungkin bekas pemakaian pada sampel lain.

4.3.2 Tes Kolorimetri
            Pada tes kolorimetri, penambahan NaOCl dan HCl dilakukan untuk menghidrolisis trigliserida menghasilkan gliserol. Kelebihan asam diuapkan dengan pendidihan. Gliserol yang telah terbentuk direaksikan dengan α-naftol, dan menggunakan katalis H2SO4 pekat. Reaksi ini akan menghasilkan suatu senyawa yang berwarna hijau zamrud. Adanya kandungan gliserol dalam sampel dengan mudah ditandai dengan terbentuknya warna hijau pada tes ini.
            Hasil percobaan yang diperoleh menunjukkan terbentuknya warna hijau zamrud pada sampel minyak sawit mentah, minyak wijen, minyak kelapa kopra, mentega, minyak kemiri, minyak VCO. Lilin dan blanko (aquades) tidak menunjukkan warna hijau zamrud, yang berarti pada lilin dan blanko tidak mengandung gliserol. Hal ini sudah benar, sebab dalam lilin hanya mengandung alkohol biasa.
            Pada uji ini, sampel minyak sawit mentah, minyak wijen, minyak kelapa kopra, lilin, mentega, minyak kemiri, dan minyak VCO membentuk dua lapisan. Sedangkan aquades hanya membentuk satu lapisan. Hal ini disebabkan dari perbedaan tingkat kepolaran dari sampel dan pereaksi yang ditambahkan. Sampel minyak sawit, minyak wijen, minyak kelapa, lilin dan mentega mengandung rantai alkana yang panjang sehingga sampel ini cenderung bersifat nonpolar, sedangkan pereaksi-pereaksi yang ditambahkan adalah senyawa yang polar. Oleh karena ini tidak dapat saling bercampur, sehingga membentuk dua lapisan. Sedangkan aquades adalah senyawa yang polar, sehingga dapat bercampur dengan pereaksi dan membentuk satu lapisan.









BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN



5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil percobaan yakni larutan sampel (gliserol, minyak kelapa kopra, minyak wijen, minyak sawit mentah, minyak kemir, minyak VCO, dan mentega) mengandung gliserol pada tes akrolein yang ditandai dengan  bau yang khas (bau tengik), sedangkan lilin tidak mengandung gliserol karena tidak berbau tengik. Untuk  Larutan sampel yang sama (gliserol, minyak kelapa kopra, minyak wijen, minyak sawit mentah, mentega, minyak kemir, minyak VCO) juga mengandung gliserol pada tes kolorimetri yang ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna hijau zamrud, sedangkan lilin dan aquades tidak mengandung gliserol

5.2 Saran
Saran yang dapat saya berikan untuk laboratorium yakni ada baiknya jika disediakan alat yang dapat membandingkan bau tengik pada tes akrolein, sehingga perbandingan bau yang didapatkan betul-betul akurat dan praktikan tidak usah menggunakan lagi organ hidungnya untuk membandingkan bau tersebut, karena hal ini bisa mengakibatkan kesehatan praktikan terganggu walaupun memang efek yang dihasilkan kecil dan membuat praktikan tidak nyaman.
Saran yang bisa saya berikan kepada percobaan yakni ada baiknya larutan contoh yang diidentifikasi diperbanyak agar dapat diketahui kandungan gliserol dari beberapa senyawa selain yang diujikan sebelumnya dan metode tes yang digunakan pun di variasikan sehingga wawasan dan keterampilan praktikan berkembang.
DAFTAR PUSTAKA



Daintith, J., 1994, Kamus Lengkap Kimia, Erlangga, Jakarta.
Fessenden, Ralph J., Joan S. Fessenden, 1997, Dasar-dasar Kimia Organik, Binarupa Aksara, Jakarta.

Lehninger, A.L., 1995, Dasar-Dasar Biokimia jilid 1, diterjemahkan oleh Maggy Thenawidjaja, Erlangga, Jakarta.

Poedjiadi, A., 1994, Dasar-Dasar Biokimia, UI-Press, Jakarta.
Patong, A. Rauf, 2011, Penuntun dan Laporan Praktikum Biokimia, Laboratorium Biokimia Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Hasanuddin, Makassar.
Serri, N.A., dkk, 2008, Preliminary Studies for Production Fatty Acids from Hydrolysis of Cooking Palm Oil Using C. Rugosa Lipase, Jouranl of Physical Science, (online) 19 (1), (http://web.usm.my/jps/19-1-08/Article%2019-1-7.pdf, Diakses pada tanggal 13 Maret 2012 Pukul 19.00 Wita).
Setiadi, Bayu A., 1981, Perengkahan Molekul trigliserida Minyak Sawit Menjadi Hidrokarbon Fraksi Gasoline Menggunakan Katalis B2O3/Al2O3, Jurnal Nasional,(online)30(6),(http://staff.ui.ac.id/internal/131668156/publikasi/SNKimia-MIPA-UI- 38Agustus-07.pdf, Diakses pada tanggal 13 Maret 2012 Pukul 17.30 WITA).
Winarno, F. G., 2004, Kimia Pangan dan Gizi, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.







LEMBAR PENGESAHAN








































Makassar, 14 Maret 2012

ASISTEN                                                                        PRAKTIKAN



  (BULQIS MUSA)                                                      (MUH. ADE ARTASASTA)
Lampiran
BAGAN KERJA

1.        Tes Akrolein
Larutan Sampel

-            Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
-            Ditambahkan KHSO4
-            Dipanaskan di atas api kecil.
-            Diamati baunya.

Data

 





2.        Tes Kolorimetri
Larutan Sampel

Blanko
 
 

-          Dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berbeda.
-          Ditambahkan NaOCl 2%.                        
-          Setelah 2-3 menit, ditambahkan HCl pekat
-          Dididihkan selama 1 menit.         
-          Ditambahkan 0,2 mL -naftol.  
-          Ditambahkan H2SO4 pekat.         
-          Diamati warna yang terbentuk.     
-         
Data

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar